By Unknown | At 06:38 | Label :
Download ,
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1438 H ,
wawasan islami
| 0 Comments
Home » Posts filed under wawasan islami
Showing posts with label wawasan islami. Show all posts
Showing posts with label wawasan islami. Show all posts
Saturday, 27 May 2017
Wednesday, 16 March 2016
Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun
By Unknown | At 15:46 | Label :
wawasan islami
| 0 Comments
Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir.
Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan.
Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan.
Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo’a, “Allâhumma hawâlainâ wa lâ ’alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),” HR Bukhari.
Hadis riwayat lain al-Bukhari menyebutkan bahwa:
إن النبي - صلى الله عليه وسلم- كان إذا رأى المطر قال اللهم صيبا نافعا
“Sesungguhnya Nabi SAW ketika melihat hujan berdo’a: Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat.”
Hadits ini menunjukan bahwa ketika hujan turun, Nabi SAW senantiasa meminta agar hujan yang diturunkan Allah SWT menjadi hujan rahmat, hujan yang membawa berkah, bukan hujan musibah. Do’a ini dibaca Nabi kisaran dua atau tiga kali berdasarkan riwayat yang disampaikan Ibnu Majah.
Di saat musim hujan seperti sekarang ini, do’a di atas penting untuk kita baca. Semoga hujan musim hujan kali ini membawa kemaslahatan bagi kita bersama. Wallâhu a’lam.
(Hengki Ferdiansyah)
ref: http://www.nu.or.id/
Ingin Terus Dapat Pahala, Lakukan Hal Kecil Ini!
By Unknown | At 15:44 | Label :
wawasan islami
| 0 Comments
Ketika kebutuhan hidup manusia terpenuhi oleh alam, manusia tidak perlu susah-susah membuat dan mengolah makanan. Manusia cukup mengambil dari alam karena alam banyak menyediakan kebutuhan manusia, terutama makanan. Makanan itu antara lain buah-buahan dan binatang buruan.
Kehidupan awal manusia sangat tergantung dari alam. Ketika alam sudah tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup manusia, yang disebabkan populasi manusia bertambah dan sumber daya alam berkurang, maka manusia mulai memikirkan bagaimana dapat menghasilkan makanan.
Oleh karena itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ غَرَسَ غَرْساً، لَمْ يَأْكُلْ مِنْهُ آدَمِيٌّ، وَلاَ خَلْقٌ مِنْ خَلْقِ اللهِ، إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ
Artinya: “Siapa yang menanam tumbuh-tumbuhan, kemudian dimakan anak Adam (manusia) atau makhluk Allah lainnya, niscaya baginya (pahala) sedekah “ (HR. Muslim)
Sabda tersebut menggerakkan para sahabat Nabi untuk melakukan penghijauan. Diceritakan, Abu Dardaradliyallahu ‘anhu pernah menanam pohon zaitun ketika usianya sudah senja. Padahal, untuk menghasilkan buah pohon tersebut membutuhkan waktu cukup lama.
Abu Darda pun ditegur seseorang perihal kegiatannya ini. “Kenapa Engkau menanam pohon zaitun, padahal pohon tersebut lama berbuah sementara usiamu sudah tua, wahai Abu Darda?”
“Tidak menjadi persoalan pohon yang saya tanam berbuah ketika saya sudah meninggal, tapi nanti yang menikmati anak cucu saya,” jelas Abu Darda.
Abu Darda pun melanjutkan penjelasannya, “Anak cucu saya akan mendoakan, dan doanya sampai ke kuburan saya.” (Ahmad Rosyidi)
(Disarikan dari kitab Ahubbuhum Anfa’uhum karya Dr. Imad Ali Abd Abdusam’i Husani)
Tiga Argumen Mengapa Abu Hurairah Terbanyak Meriwayatkan Hadits
By Unknown | At 15:38 | Label :
wawasan islami
| 0 Comments
Dalam Karakteristik Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah, Khalid Muhammad Khalid ketika menarasikan biografinya Abu Hurairah, tidak ketinggalan pula menelusuri rahasia di balik kelebihan Abu Hurairah dalam meriwayatkan hadits dari Rasulullah ketimbang sahabat-sahab lainnya dalam sisi produktivitas meriwayatkan hadits.
Sahabat Nabi yang masuk Islam pada tahun ketujuh setelah Hijrah ini memang dikenal sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Padahal terhitung sejak Abu Hurairah berbaiat masuk Islam di hadapan Nabi sampai wafatnya hanya menjumpai waktu kurang lebih empat tahun. Artinya dapat dikatakan Abu Hurairah bukan termasuk golongan sahabat yang masuk Islam pada periode awal. Tapi kenapa sebagai mukharrij awwal (perawi pertama) Abu Hurairah secara kuantitatif (jumlah) hadits yang diriwayatkannya lebih banyak melebihi para sahabat lain yang notabene jauh lebih lama menjumpai dan mendampingi Nabi.
Ternyata sebagai sahabat yang masuk Islamnya tidak pada periode awal Islam, dia menyadari bahwa dirinya memang termasuk orang yang masuk Islam belakangan. Kenyataan demikian membuat Abu Hurairah bertekad untuk mengejar ketertinggalannya, dengan cara mengikuti Rasul terus-menerus dan secara konsisten mengikuti majelisnya.
"Ketahuilah bahwa sahabat-sahabatku orang-orang Muhajirin itu sibuk dengan perdagangan mereka di pasar-pasar. Sedangkan sahabat-sahabatku orang-orang Anshar sibuk dengan tanah pertanian mereka. Sedangkan aku adalah seorang miskin yang paling banyak menyertai majelis Rasulullah, maka aku hadir saat yang lain absen," ujar Abu Hurairah menjelaskan.
Dengan kata lain, meski Abu Hurairah mendampingi dan menjumpai Nabi hanya sekitar empat tahun, tapi dalam tempo yang pendek tersebut dia benar-benar fokus menyertai Nabi. Selama rentang waktu itu, dia tidak memiliki kegiatan sampingan lain semisal berdagang atau bertani. Sementara sebagian sahabat lain, di samping menghadiri majelis Nabi, tapi umumnya juga masih memiliki kesibukan lain.
Bila kita analogikan pada konteks sekarang pun pernyataan Abu Hurairah di atas masih sangat relevan. Meski sama-sama belajar ilmu agama Islam, apakah hasilnya sama antara anak yang belajar mengikuti pendidikan di Pondok Pesanren secara reguler dengan anak yang cuma belajar di pesantren kilat. Walaupun keduanya sama-sama memperoleh ilmu, namun jelas lulusan yang dihasilkan jauh berbeda.
Begitu pula di pendidikan formal, kendati sama-sama kuliah dan dapat ijazah misalnya, apakah sama antara mahasiswa yang kuliah di kelas reguler dan mengikuti alur akademik sebagaimana mestinya dibandingkan dengan mahasiswa yang mengambil jalur khusus dengan beban belajar yang jauh lebih ringan. Tentu secara mutu dan kualitas alumninya tidak sama.
Hujjah selanjutnya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berbicara kepada para shahabat pada suatu hari, "Siapa yang membentangkan sorbannya hingga selesai pembicaraanku, kemudian ia meraihnya, maka ia takkan terlupa akan suatu pun dari apa yang telah didengarnya dariku," demikin Nabi bersabda.
"Maka kuhamparkan kainku, lalu beliau berbicara padaku, kemudian kuraih kain itu, dan demi Allah tak ada satu pun yang terlupa bagiku dari apa yang telah kudengar dari Nabi", terang Abu Hurairah.
Berkah doa Nabi tersebut kepada Abu Hurairah, didukung pula sebelumnya Abu Hurairah secara pembawaan memang sudah mempunyai daya ingat yang kuat dan mahir dalam menghafal.
Dan alasan ketiga adalah adanya kesadaran dan rasa kewajiban pada diri Abu Hurairah untuk menyampaikan apa yang telah diperolehnya dari Rasulullah kepada umat Islam yang belum mengetahuinya. Dalam hal ini Abu Hurairah menyatakan, demi Allah kalau tidaklah karena ada ayat dalam Al-Qur'an yang memerintahkan soal kewajiban ini, niscaya tidak akan kukabarkan kepada kalian sedikitpun. Ayat yang dimaksud adalah:
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى
مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ
اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاعِنُونَ (١٥٩)
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, sesudah kami nyatakan kepada manusia di dalam kitab mereka. Itulah yang dikutuk oleh allah dan dikituk oleh para pengutuk (Al-Baqarah: 159)
Dengan demikian sebagai kesimpulan, menurut hemat kami, setidaknya ada tiga argumen yang menguatkan sahabat Abu Hurairah kenapa dia seorang yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah.
Pertama, karena Abu Hurairah meluangkan waktu untuk menyertai Nabi Muhammad jauh lebih banyak daripada para sahabat lainnya.
Kedua, karena ia memiliki daya ingatan yang kuat, yang telah diberi berkat doa oleh Rasulullah hingga daya ingatnya menjadi semakin kuat.
Ketiga, ia menceritakan hadits bukan karena ia gemar bercerita, tetapi karena keyakinan bahwa menyebarluaskan hadita-hadits merupakan tanggungjawabnya terhadap agama dan hidupnya.
(M. Haromain)
ref : www.nu.or.id
Saturday, 12 March 2016
Inilah Batasan Sabar
By Unknown | At 16:32 | Label :
wawasan islami
| 0 Comments
Di antara sifat yang paling mulia dan utama adalah sabar. Keutamaan sifat ini banyak disebutkan dalam Al-Qur’an, hadits, dan penjelasan para ulama. Menurut Al-Ghazali, setidaknya ada sekitar tujuh puluh lebih keterangan Al-Qur’an terkait sifat keutamaan sabar, anjuran sabar, dan ganjaran yang akan diperoleh orang yang senantiasa menjaga kesabaran.
Waswas, Cara Setan Mengelabui Orang Shalat
By Unknown | At 14:18 | Label :
wawasan islami
| 0 Comments
Dalam salah satu karya yang berjudul Al-Kasyfu wat Tabyin fi Ghuruuril Khalqi Ajma'in, Abu Hamid Al-Ghazali membongkar macam-macam bentuk keterperdayaan yang dialami manusia saat mereka berusaha mendekatkan diri pada Allah melalui berbagai jalan ibadah. Salah satu dari bentuk ketertipuan manusia yang dikuak dalam risalah tersebut adalah berhinggapnya rasa waswas (keragu-raguan) pada seseorang ketika melaksanakan berbagai ritual ibadah khususnya dalam shalat.
Thursday, 22 October 2015
HUKUM MENGADZANI TELINGA BAYI
By Unknown | At 09:51 | Label :
wawasan islami
| 0 Comments
Alhamdulillhirobbil 'alamin, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, serta sholawat dan salam selalu tercurah kepada Baginda Nabi Besar Muhammad SAW.
Apa hukum mengadzani ditelinga bayi ? karena saya pernah mendengar salah satu ustadz mengatakan bahwa ini perkara yang lemah dan tidak ada contoh yang kuat dari Nabi Muhammad..
Monday, 3 September 2012
Peristiwa di Bulan Syawal dalam Islam
بسم الله الرحمن الرحيم
Syawal adalah bulan ke sepuluh di dalam kalender islam. Syawwal menurut akar katanya berarti naik, ringan, atau membawa (mengandung). Disebut demikian karena dahulu, ketika bulan-bulan hijriyah masih ‘disesuaikan’ dengan musim (praktek interkalasi), suhu meningkat karena berada pada musim panas seperti halnya Ramadhan. Selain itu, biasanya orang Arab mengamati bahwa pada bulan inilah unta-unta mengandung atau menaikkan ekornya sebagai tanda tidak mau dikawini. Karenanya, orang Arab juga memiliki kepercayaan bahwa bulan ini ‘tidak baik’ dan melihat pernikahan di bulan Syawal akan berakhir sial. Kepercayaan ini dihapus oleh islam dengan peristiwa pernikahan Nabi Muhammad saw. di bulan tersebut (lihat di bawah).
Sunday, 5 August 2012
3 Amal yang paling disukai Allah SWT
By Unknown | At 14:00 | Label :
wawasan islami
| 0 Comments
Sebenarnya banyak amalan-amalan yang di sukai oleh Allah SWT. tetapi pada kesempatan kali ini akan dibahas tentanf hadits yang di riwayatkan Bukhari-Muslim.
Allah SWT menyukai manusia yang selalu berusaha untuk taqarrub ke pada-Nya, dengan menggunakan semua kenikmatan yang diberikan, baik nikmat dhohir maupun nikmat bathin. Semua perbuatan yang dilakukannya semata-mata ditujukan untuk meraih ridha Allah.
Saturday, 21 July 2012
Shalat Tarawih
By Unknown | At 10:28 | Label :
wawasan islami
| 0 Comments
Shalat malam di bulan Ramadhan dinamakan Tarawih yang artinya “istirahat” karena orang yang melakukan shalat Tarawih beristirahat setelah melaksanakan shalat empat raka’at. Shalat Tarawih termasuk qiyamul lail atau shalat malam. Akan tetapi, shalat Tarawih hanya dikhususkan dan boleh dikerjakan di bulan Ramadhan saja.
Para ulama sepakat bahwa shalat Tarawih
hukumnya adalah sunnah {dianjurkan}. Bahkan menurut ulama Hanafiyah, Hanabilah,
dan Malikiyyah, hukum shalat Tarawih adalah sunnah
mu’akkadah {sangat dianjurkan}. Shalat ini dianjurkan bagi laki-laki dan
perempuan. Shalat Tarawih merupakan salah satu syi’ar Islam. Shalat Tarawih ini
disyari’atkan dilakukan secara berjama’ah sebagaimana yang dicontohkan oleh
Nabi dan para sahabat setelahnya.
Panduan Sholat Tarawih
By Unknown | At 10:26 | Label :
wawasan islami
| 0 Comments
Dari Aisyah bahwa Rasulullah s.a.w. pada suatu malam (di bulan Ramadhan) mendirikan sholat, lalu datang orang-orang pada berikutnya (ingin sholat bersama beliau). Kemudian datanglah malah ketiga atau keempat dan orang-orang pun sudah berdatangan, namun beliau tidak keluar. Saat pagi datang beliau bersabda:"Aku telah melihat yang kalian lakukan, dan aku tidak keluar karena aku takut sholat itu nantinya diwajibkan kepada kalian". (H.R. Muslim).
Dari
Abdurrahman bin al-Qari berkata" suatu malam di bulan Ramadhan aku
berjalan bersama Umar bin Khattab melihat-lihat masjid, lalu beliau
melihat orang-orang berbeda-beda dalam mendirikan sholat (sunnah),
sebagian sholat sendiri, sebagian sholat bersama kelompok kecil. Lalu
Umar berkata: "Aku melihat seandainya mereka dikumpulkan di belakang
satu qari (pembaca Qur'an) tentu lebih baik. Lalu beliau menganjurkan
agar semua sholat di belakang Ubay bin Ka'ab. Kemudian aku
keluar bersama Umar pada malam lain dan orang-orang sudah sholat
berjamaah di belakang imam satu, lalu Umar berkata:"Inilah sebaik-baik
bid'ah, dan sholat yang mereka tinggalkan untuk tidur tetap lebih baik
dibandingkan dengan sholat yang mereka dirikan" (maksudnya sholat malam
di akhir malam lebih utama dibandingkan dengan sholat di awal waktunya).
R. Bukhari dan Muslim.
Hadist di atas merupakan salah satu dalil sholat tarawih. Tarawih merupakan kata plural dari raahah
yang artinya istirahat. Konon disebut sholat tarawih karena pada saat
umat Islam melaksanakan sholat tersebut secara berjamaah, mereka
malakukan istirahat setiap dua kali salam. Sholat tarawih hukumnya sunnah muakkadah pada malam bulan suci Ramadhan.
Ibnu
hajar menjelaskan, hadist-hadist sahih di atas tidak menjelaskan jumlah
rakaat sholat tarawih, yakni berapa rakaat sholat tarawih berjamaah
yang diimami Ubay bin Ka'ab? Riwayat berbeda-beda tentang itu. Imam
Malik dalam Muwatta' meriwayatkan 11 rakaat. Riwayat lain mengatakan
setiap rakaat membaca 200 ayat sehingga para sahabat ada yang
berpegangan tongkat karena panjangnya sholat. Riwayat Muhamad Yusuf
mengatakan 13 rakaat. Riwayat Saib bib Yazid mengatakan 20 rakaat.
Riwayat lain dari Abu Yusuf mengarakan 21 rakaat. Yazin bin Ruman
mengatakan:"Orang-orang mendirikan sholat pada zaman Umar sebanyak 23
rakaat. Riwayat Dawud bin Qais mengatakan: Aku melihat orang-orang pada
masa Aban dan Utsman dan Umar bin Adbul Aziz melaksanakan sholat tarawih
sebanyak 36 rakaat dan melakukan witir 3 rakaat. Inilah yang menjadi
salah satu pendapat imam Malik. Riwayat dari Syafi'I mengatakan:"Aku
melihat orang-orang sholat Tarawih di Madina sebanyak 39 rakaat dan di
Makkah 23 rakaat. Tirmidzi mengatakan bahwa riayat paling banyak tentang
rakaat tarawih adalah 41 rakaat termasuk witir.
Pendapat Empat Madzhab:
Madzhab
Maliki, Syafi'I dan Hanbali melaksanakan shoalt Tarawih dengan 20
rakaat. Imam Nawawi dalam al-Majmu' menjelaskan bahwa landasan yang
digunakan adalah riwayat sahih dari Saib bin Yazid yang mengatakan bahwa
sholat Tarawih pada zaman Umar r.a. dilaksanakan 20 rakaat. Madzhab
Maliki melaksanakan sebanyak 39 rakaat sesuai riwayat ahli Madinah.
Sebagaimana diketahui madzhab Maliki menganggap tindakan ahli Madinah
merupakan dalil yang bisa dijadikan landasan.
Pelaksanaan
sholat tarawih di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi saat ini tetap
mengacu kepada pendapat madzhab resmi pemerintah Saudi Arabia, yaitu
Hanbali dengan pelaksanaan sebanyak 20 rakaat. Namun pada malam ke-20
Ramadhan hingga akhir bulan, di kedua masjid agung tersebut juga
dilaksanakan sholat qiyamullail sebanyak 10 rakaat dimulai
sekitar pukul 12 malam hingga menjelang sahur. Dengan jumlah solatnya
sebanyak 30 rakaat plus 3 rakaat witir. Pelaksanaan sholat qiyamullail
ini tidak jauh berbeda dengan tarawih, hanya ayat yang dibaca lebih
panjang sehingga masa sholat juga lebih lama.
Mengacu pada Sholat Malam Rasulullah
Ada
juga pendapat yang mengatakan bahwa pelaksanaan sholat tarawih adalah
mengacu pada sholat malam Rasulullah. Pendapat ini diikuti beberapa
ulama mutaakhiriin (Ulama Kurun Terakhir). Jumlah rakaat shalat malam
yang dilakukan Rasulullah adalah sebagai berikut :
1. 11 rakaat terdiri dari 4 rokaat x 2 + 3 rakaat witir. Ini sesuai dengan hadist A'isyah yang diriwayatkan Bukhari.
2. 11 rakaat terdiri dari 4 rokaat x 2 + 2 rakaat witir + 1 witir. Ini sesuai dengan hadist Ai'syah riwayat Muslim.
3. 11 rakaat terdiri dari 2 rokaat x 4 & 2 rakaat witir + 1 witir. Ini juga diriwayatkan oleh Muslim.
4. Ada juga riwayat Ibnu Hibban yang mengatakan 8 rakaat + witir.
5. Ada juga riwayat yang mengatakan 13 rakaat termasuk witir.
Itulah
riwayat dan pendapat seputar rakaat sholat Tarawih. Ini masalah
furu'iyah yang sudah lama dikaji oleh para ulama terdahulu. Mau
melakukan yang mana, silahkan memilih sesuai keyakinan masing-masing.
Tidak masanya lagi kita mempermasalahkan berapa rakaat sholat tarawih
yang sebaiknya kita laksanakan.,apalagi mengklaim paling benar. Semua
pendapat ada dalilnya. Yang terpenting adalah kualitas ibadah kita dan
niat baik memeriahkan bulan Ramadhan. Allah Maha Bijaksana dalam menilai
ibadah kita masing-masing
Etika Sholat Tarawih
1. Berjamaah
di masjid, disunnahkan untuk semua kalangan laki-laki dan perempuan.
Bagi kaum lelaki disunnahkan menggunakan pakaian yang rapi dan bersih
ketika ke masjid, sambil memakai wangi-wangian. Kaum perempuan sebaiknya
juga menggunakan pakaian yang rapi, menutupi aurat (aurat wanita di
luar rumah adalah hanya muka dan telapak tangan yang boleh kelihatan),
berjilbab, tidak menggunakan wangi-wangian dan make up. Kaum perempuan
juga menjaga suara dan tindakan agar sesuai dengan etika Islami selama
berangkat ke masjid dan di dalam masjid.
2.
Membawa mushaf atau al-Qur'an, atau HP yang dilengkapi program
al-Qur'an sehingga selama mengisi waktu kosong di Masjid bisa
dimanfaatkan untuk membaca al-Qur'an.
3.
Sebaiknya mengikuti tata cara sholat tarawih sesuai yang dilakukan
imam. Kalau imam sholat 8 rakaat + 3 rakaat witir, makmum mengikuti itu.
Bila ia ingin menambahi jumlah rakaat, sebaiknya dilakukan di rumah.
Kalau imam melaksanakan sholat 20 rakaat maka sebaiknya mengikutinya.
Bila ia ingin hanya melaksanakan 8 rakaat, maka hendaknya ia undur diri
dari jamaah dengan tenang agar tidak mengganggu jamaah yang masih
melanjutkan sholat tarawih. Ia bisa langsung pulang atau menunggu di
masjid sambil membaca al-Qur'an dengan lirih dan tidak mengganggu jamaah
yang sedang sholat.
4.
Bagi yang berniat untuk sholat malam (tahajud) dan yakin akan bangun
malam, sebaiknya undur diri dengan tenang (agar tidak mengganggu yang
masih sholat witir) pada saat imam mulai melaksanakan sholat witir.
Malam harinya ia bisa melaksanakan sholat witir setelah tahajud. Bagi
yang tidak yakin bisa bangun malam untuk sholat malam (tahajud), maka ia
sebaiknya mengikuti imam melaksanakan sholat witir dan malam harinya
dia masih disunnahkan melaksanakan sholat malam (tahajud) dengan tanpa melaksanakan witir.
Dalam melaksanakan salat tarawih juga disunnahkan duduk sebentar
setelah salam, pada setiap rakaat keempat. Inilah mengapa disebut
tarawih yang artinya "istirahat", karena 'mushali' duduk sebentar
beristirahat setiap empat rakaat. Tidak ada bacaan khusus selama duduk
tersebut, namun disunnahkan memperbanyak berzikir. Istilah tarawih
sendiri belum ada pada zaman Nabi saw. Pada saat itu salat tarawih hanya
disebut dengaan salat malam atau salat 'qiyam al lail'.
Salat tahajjud adalah salat malam yang dilaksanakan setelah tidur.
Apabila salat tarawih dilaksanakan setelah tidur maka ini juga termasuk
salat tahajjud.
Disunnahkan juga dalam salat tarawih untuk mengeraskan suara ketika membaca Fatihah dan surah.
http://www.pesantrenvirtual.com/
MASALAH RAKA’AT TARAWIH BAGIAN KE-2
By Unknown | At 10:22 | Label :
wawasan islami
| 0 Comments
Sebagian
ulama’ berpendapat bahwa jumlah raka’at Tarawih adalah 8 raka’at dengan 3
raka’at witir. Pendapat ini berdasarkan dalil-dalil sebagai berikut :
· Hadits
yang riwayat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata :
َانَ النَّبِيُّ r
يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشَرَةَ رَكْعَةً يُوْتِرُ مِنْ ذَلِكَ بِخَمْسٍ
لاَ يَجْلِسُ فِيْ شَيْءٍ مِنْهُنَّ إِلاَّ فِيْ آخِرِهِنَّ
“Nabi Saw
biasanya shalat malam tiga belas rakaat, termasuk di dalamnya witir dengan
lima rakaat tanpa duduk di salah satu rakaat pun kecuali pada rakaat terakhir.”
(Hadits Muttafaq alaih).
· Hadits
dari Jabir bin ‘Abdillah ra. beliau menuturkan, “Rasulullah Saw
pernah shalat bersama kami di bulan Ramadhan sebanyak 8 raka’at lalu
beliau berwitir. Pada malam berikutnya, kami pun berkumpul di masjid sambil berharap
beliau akan keluar. Kami terus menantikan beliau di situ hingga datang waktu
fajar. Kemudian kami menemui beliau dan bertanya, “Wahai Rasulullah,
sesungguhnya kami menunggumu tadi malam, dengan harapan engkau akan shalat
bersama kami.” Beliau menjawab, “Sesungguhnya aku khawatir kalau akhirnya
shalat tersebut menjadi wajib bagimu.” (HR. Ath Thabrani, Ibnu Hibban dan
Ibnu Khuzaimah)
· Dari
Ibnu ‘Abbas ra., beliau berkata, “Shalat Nabi Saw di malam hari adalah 13
raka’at.” (Mutafaqun ‘alaih).
Kami tidak mengetahui
adanya para ulama yang berpendapat secara tegas mengatakan bahwa shalat Tarawih
11 raka’at kecuali Bin Baaz, Nashirudin al Albani dan sebagian ulama su’udiyyah.
Sebagaimana al Albani berkata: “(Jumlah) rakaat (shalat
tarawih) adalah 11 rakaat, dan kami memilih tidak lebih dari (11 rakaat) karena
mengikuti Rasulullah, maka sesungguhnya beliau tidak melebihi 11 rakaat sampai
beliau wafat.” (Qiyamu Ramadhan, hal. 22)
3. 36
raka’at
Ternyata
ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa Tarawih boleh dikerjakan dengan
bilangan yang banyhak, yaitu sampai 36 raka’at.[1] Disebutkan dalam beberapa kitab bahwa di masa
Umar bin Abdul Aziz, kaum muslimin shalat tarawih hingga 36 raka’at ditambah
witir 3 raka’at.
Jumlah
Tarawih dengan bilangan 36 raka’at ini adalah pendapat sebagian Malikiyyah.[2]
Dalilnya,
karena golongan ini menganggap bahwa :
1. Rakaat
Tarawih tidak berbilang[3]
2. Amalan
ahlu madinah adalah dijadikan hujjah dalam mazhab Maliki
Adapun
bilangan 36 rakaat itu memiliki sebab sebagaimana yang disebutkan Imam syafi’i,
ia berkata : Penduduk Madinah terawih 36 raka’at karena penduduk Makkah yang
Tarawih 20 raka’at mereka melakukan Thawaf setiap antara 2 raka’at 7 putaran. Maka
penduduk madinah menjadikannya (36 raka’at) untuk menyamai penduduk Makkah.[4]
Lantas, bagaimana kesimpulannya ?
Dari pembahasan diatas, dapat disimpulkan dan sekaligus diambil langkah -langkah dalam menyikapinya sebagai berikut :
1. Pendapat
yang paling kuat tentang jumlah rakaat shalat Tarawih adalah 20 rakaat. Inilah
yang dipilih oleh ulama’ Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah Ia
telah menjadi pendapat jumhur ulama’. Dan tentunya shalat Tarawih terbaik
adalah yang mengikuti pendapat ini. Yang tentunya dengan catatan shalatnya dikerjakan
dengan tuma’ninah. Sebagaimana kata tarawih itu berasal dari kata ‘rawaha’ yang
artinya istirahat, jadi dilakukan dengan tenang dan khusyu’. Tidak dilakukan dengan kebut-kebutan seperti
dikejar setan, bacaan Al Fatihah pun kadang dibaca dengan satu nafas. Bahkan terkadang
yang shalat 23 raka’at ini lebih cepat selesai dari yang 11 raka’at. Ini
sungguh suatu kekeliruan yang nyata. Paling ideal shalat ini mungkin memakan
waktu diatas satu jam, bahkan lebih. Seperti semasa kami di al Azhar yang satu
raka’atnya imam membaca 1 halaman. Begitu 20 raka’at pas 1 juz, dalam satu
bulan khatamlah al Qur’an. Tetapi waktu yang lama itu tetap terasa nikmat,
karena memang ada semangat dan niat kuat menghidupkan malam ramadhan. Tidak
diburu-buru dengan nafsu berbuka yang belum terlampiaskan. Dan memang
selain itu faktor pendukungnya ada yang membuat kerasan di masjid, diantaranya adalah
para imam shalatnya memang meiliki suaranya indah lagi fasih.
2. Yang
kedua, jika memang masjid ini ditengah mmasyarakat umum yang masih awam, yang
nilai-nilai keislaman belum tertanam baik. Ada baiknya imam mempertimbangkan
kondisi ini, jangan gara-gara di patok 23 raka’at jama’ah juma betah 3 hari,
setelah itu bubar nga ada yang ke masjid. Mungkin ada baiknya shalat dikerjakan
dua edisi, setelah isya 8 atau 10 raka’at, nanti tengah malam atau pas waktu
syahur diadakan lagi.
Nah, yang
kayak gini kayaknya belum ada nih yang mencoba di indonesia. Apa sebabnya ? ya
karena kita terlalu terpaku beku ribut masalah 11 atau 23 raka’at, padahal ada
solusi yang bisa ditempuh untuk mengkompromikan antara 11 dengan 23, antara terlalu
nyantai dengn yang terlalu tergesa-gesa. Bukankah di dalam hadits telah
disebutkan bahwa para sahabat shalat bersama Rasulullah dan kemudian
menggenapinya dirumah masing-masing?
Demikian juga Ibnu Taimiyah
mengatakan, “Barangsiapa yang menyangka bahwa shalat malam di bulan Ramadhan
memiliki batasan bilangan tertentu dari Nabi Saw sehingga tidak boleh lebih
atau kurang dari 11 raka’at, maka sungguh dia telah keliru.”[5]
3.
Nah yang terakhir, bagi masjid
yang merupakan masjid para pekerja, semisal area tambang. Mungkin lebih baik
untuk menggunakan yang 8 raka’at saja. Bisa langsung ditutup witir tetapi bila ada
dugaan kuat, para jama’ah masih mampu untuk mengerjakan tambahannya di malam
hari, lebih baik witir ditunda.
Akhir kata kita harus ingat, bahwa bilangan raka’at Tarawih ini adalah perkara
yang diikhtilafkan oleh para ulama. Sikap yang tidak bisa menerima perbedaan dalam
masalah khilafiyyah - baik karena tidak tahu, tidak mau tahu atau
pengetahuannya yang keliru – adalah penyakit yang membahayakan umat. Yang harus
segera dibasmi bahkan diamputasi dari tubuh umat islam. Tarawih bukanlah ibadah
wajib, ia hanya sunnah, jangan sampai dipersulit hukumnya dan dipersusah pelaksanaannya
- Meskipun bukan berarti kita boleh
meremehkan sesuatu hanya karena bersetatus sunnah.
"Sesungguhnya
Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku
dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku." (QS. Thaha: 14)
Wallahu
a’lam.
[1] As Syarh al Kabir li ad
Dariri,1/315, Fiqh al Islami wa Adilatuhu, 2/76.
[2] Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al
Kuwaitiyyah, 27/143. Bidayatul
Mujtahid,2/460, Fiqh al Islami wa Adilatuhu, 2/76.
[3] Berkata
Ibnu Taimiyyah : Barangsiapa yang mengira bahwa qiyam Ramadhan tidak bisa
dikurang dan ditambah, maka dia telah keliru.( Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyyah,
22/272.
[4] Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al
Kuwaitiyyah, 27/143.
MASALAH RAKA’AT TARAWIH
By Unknown | At 10:20 | Label :
wawasan islami
| 0 Comments
Shalat Tarawih adalah shalat sunnah muakaddah dalam pandangan mayoritas ulama. Diantara hal yang menarik dari shalat ini, adalah polemik di tengah tengah umat mengenai bilangan raka’at shalatnya. Perbedaan jumlah raka’at shalat Tarawih telah menjadi masalah khilafiah sejak lama. Tidak sedikit kasus yang terjadi, berupa permusuhan dianatara sesama saudara seiman hanya karena masalah ini. Sebenarnya hal ini tidak akan terjadi, bila umat memiliki pemahaman yang utuh mengenai setiap masalah-masalah khilafiyyah. Karena masalah Fiqhiyyah ini bukanlah masalah prinsipil yang mengantarkan orang kepada benar dan salah. Tetapi masalah rajih dan marjuh, yaitu sebuah usaha memilih sebuah pendapat yang paling tepat dari yng benar.
HUKUM SHALAT TARAWIH BERJAMA'AH
By Unknown | At 10:17 | Label :
wawasan islami
| 0 Comments
Perbedaan pendapat mengenai tatacara pelaksanaan Tarawih memang cukup banyak. Mulai dari perbedaan jumlah raka’atnya, bacaan-bacaannya, bahkan ada sebagian yang masih khilaf tentang masyru’iyahnya shalat Tarawih ketika dikerjakan berjama’ah seperti umumnya yang terjadi sekarang ini.
Setiap
shalat sunnah punya aturan sendiri-sendiri, termasuk dalam hal apakah dilakukan
dengan berjamaah atau tidak. Sebagian shalat sunnah harus dikerjakan dengan
cara berjamaah, seperti shalat Idul fithri, shalat Idul Adha, shalat Istisqa',
shalat Khusuf dan shalat Kusuf.
Sebagian
lainnya tidak diutamakan untuk dikerjakan secara berjamaah, misalnya shalat
sunnah rawatib qabliyah
dan ba'diyah, shalat tahiyatul masjid, shalat dhuha, shalat lail dan seterusnya.
Shalat-shalat ini dahulu dilakukan oleh Rasulullah SAW dengan sendirian (munfarid), tidak dengan berjamaah.
Namun
ada pula sebagian shalat yang boleh saja dikerjakan sendiri sendiri ataupun
berjama’ah, semisal shalat malam, shalat Dhuha dan Tasbih. Lantas shalat
Tarawih masuk golongan shalat sunnah
yang mana ? Apakah masuk golongan shalat sunnah yang disyariatkan
berjama’ah, atau sendiri, atau boleh kedua-duanya ?
Marhaban Ya Ramadhan!
By Unknown | At 09:15 | Label :
wawasan islami
| 0 Comments
Umat Islam kini kembali menjalankan ibadah puasa Ramadan. Bulan yang oleh Allah subhanahu wata'ala dihimpun di dalamnya rahmah (kasih sayang), maghfirah (ampunan), dan itqun minan naar
(terselamatkan dari api neraka). Bulan Ramadan juga disebut dengan
"shahrul Qur'an", bulan diturunkannya al-Qur'an yang merupakan lentera
hidayah ketuhanan yang sangat dibutuhkan umat manusia dalam membedakan
mana yang baik dan mana yang buruk serta mana jalan yang benar dan mana
jalan yang sesat.
PANDANGAN MATA KETIKA SHALAT
By Unknown | At 08:54 | Label :
wawasan islami
| 0 Comments
Para ulama
berbeda pendapat tentang kearah mana seharusnya pandangan mata ketika shalat
dijatuhkan. Sebagian ulama berpendapat bahwa pandangan mata ketika shalat
adalah ke bawah, yakni ke arah tempat sujudnya. Sedangkan sebagian yang lain
berpendapat bahwa pandangan mata ketika shalat adalah ke depan, yaitu bagi para
makmum memandang kepada imamnya.
Sunday, 24 June 2012
PERSIAPAN MENUJU BULAN RAMADHAN
By Unknown | At 11:34 | Label :
wawasan islami
| 0 Comments
Assalamu'alaikum... Wahh, tidak terasa bulan Ramadhan Makin kian dekat. Nah, maka dari itu kita perlu mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangannya. Ramadhan adalah bulan penuh berkah, penuh berkah dari semua sisi kebaikan. Oleh karena itu, umat Islam harus mengambil keberkahan Ramadhan dari semua aktifitas positif dan dapat memajukan Islam dan umat Islam. Termasuk dari sisi ekonomi, sosial, budaya dan pemberdayaan umat. Namun demikian semua aktifitas yang positif itu tidak sampai mengganggu kekhusu’an ibadah ramadhan terutama di 10 terakhir bulan Ramadhan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan bulan puasa sebagai bulan penuh amaliyah dan aktivitas positif. Selain yang telah tergambar seperti tersebut di muka, beliau juga aktif melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan.
Tuesday, 12 June 2012
“Pakai Sayyidina dalam Shalawat, Bagaimana Hukumnya?”
By Unknown | At 11:28 | Label :
wawasan islami
| 2 Comments
Banyak yang bertanya apa sih hukumnya menambahi kata sayyidina pada tahiyat awal dan akhir waktu sholat, dan juga bersholawat diluar sholat. Ini pembahasannya...
Mazhab As-Syafi`iyyah dan Al-Hanabilah menyatakan bahwa shalawat kepada nabi dalam tasyahhud akhir hukumnya wajib. Sedangkan shalawat kepada keluarga beliau SAW hukumnya sunnah menurut As-Syafi`iyah dan hukumnya wajib menurut Al-Hanabilah.
Untuk itu kita bisa merujuk pada kitab-kitab fiqih, misalnyakitab Mughni Al-Muhtaj jilid 1 halama 173, atau juga bisa dirunut ke kitab Al-Mughni jilid 1 halaman 541.
Mazhab As-Syafi`iyyah dan Al-Hanabilah menyatakan bahwa shalawat kepada nabi dalam tasyahhud akhir hukumnya wajib. Sedangkan shalawat kepada keluarga beliau SAW hukumnya sunnah menurut As-Syafi`iyah dan hukumnya wajib menurut Al-Hanabilah.
Untuk itu kita bisa merujuk pada kitab-kitab fiqih, misalnyakitab Mughni Al-Muhtaj jilid 1 halama 173, atau juga bisa dirunut ke kitab Al-Mughni jilid 1 halaman 541.
Biasakanlah Dzikir, Karena Dzikir Itu adalah "Obat"
By Unknown | At 11:20 | Label :
wawasan islami
| 0 Comments
SIAPAPUN
pasti bingung dan gelisah ketika sedang dihimpit berbagai macam
persoalan serius. Saat pertama yang dihadapi setiap orang ketika ketika
menghadapi persoalan adalah adalah akal empiriknya dan rasio untuk
segera mencari solusi dari masalah yang dihadapinya.
Saat-saat seperti itulah manusia akan berada pada titik balik kehidupan. Jika dia mengingat Allah, niscaya dia akan memulai babak baru di mana hidupnya akan senantiasa diberkahi. Namun manakala dia berpaling dari-Nya, niscaya dia akan sengsara untuk selama-lamanya.
Suatu hari, ada seorang seorang pengusaha sukses yang sedang menghadisi sebuah seminar. Saat itu, ia bercerita tentang bagaimana awal mula memulai bisnis yang kemudian berkembang menjadi begitu besar.
Ia bercerita, bahwa usahannya dimilai dengan niat untuk mendapat ridha Allah SWT.
Saat-saat seperti itulah manusia akan berada pada titik balik kehidupan. Jika dia mengingat Allah, niscaya dia akan memulai babak baru di mana hidupnya akan senantiasa diberkahi. Namun manakala dia berpaling dari-Nya, niscaya dia akan sengsara untuk selama-lamanya.
Suatu hari, ada seorang seorang pengusaha sukses yang sedang menghadisi sebuah seminar. Saat itu, ia bercerita tentang bagaimana awal mula memulai bisnis yang kemudian berkembang menjadi begitu besar.
Ia bercerita, bahwa usahannya dimilai dengan niat untuk mendapat ridha Allah SWT.
Sehat dengan minum Air Putih Ala NABI
By Unknown | At 11:08 | Label :
wawasan islami
| 0 Comments
UNTUK
sehat sejatinya tidak sulit. Seluruh ciptaan Allah yang diperuntukkan
bagi manusia hakikatnya baik. Sebut saja misalnya, air putih atau air
mineral yang biasa dikonsumsi setiap hari. Secara medis air putih
terbukti ampuh dalam menjaga stabilitas kesehatan tubuh.
Sayangnya, sekalipun air putih tergolong mudah didapatkan dan mengandung zat penting yang dibutuhkan tubuh, kesadaran dan kemauan manusia modern untuk minum air putih sesuai anjuran medis masih juga belum menggembirakan.
Padahal hampir semua orang tahu dan mengerti manfaat air putih. Namun dalam praktiknya masih tidak sedikit di antara kita yang abai dalam memanfaatkannya secara optimal. Jadi tidak keliru ungkapan seorang Fritjof Capra yang keheranan melihat perilaku manusia modern. Canggih teknologinya namun rendah kesadarannya terhadap kesehatan tubuh.
Sayangnya, sekalipun air putih tergolong mudah didapatkan dan mengandung zat penting yang dibutuhkan tubuh, kesadaran dan kemauan manusia modern untuk minum air putih sesuai anjuran medis masih juga belum menggembirakan.
Padahal hampir semua orang tahu dan mengerti manfaat air putih. Namun dalam praktiknya masih tidak sedikit di antara kita yang abai dalam memanfaatkannya secara optimal. Jadi tidak keliru ungkapan seorang Fritjof Capra yang keheranan melihat perilaku manusia modern. Canggih teknologinya namun rendah kesadarannya terhadap kesehatan tubuh.
Subscribe to:
Posts (Atom)




